Mari Bantu Ibu Zubaidah dan Alif Kecil yang Kini Yatim

MA dituduh mencuri amplifier milik musholla Al Hidayah, di Babelan, Bekasi dan dihakimi massa hingga dibakar hidup-hidup.
Kampanye Selesai
Terima kasih atas partisipasi Anda. Kampanye ini telah selesai 1 bulan lalu
12% Capaian
  • Rp 1.150.225 Terhimpun
  • Rp 10.000.000 Target
  • 3 Donatur
Sisa waktu untuk berdonasi

MARI BANTU MEREKA

“Mama… mama, kok pas orang-orang shalat, Abi gak ada? Ma, kok Abi ditindihin sama tanah gitu sih?” 

Begitulah dua dari sekian banyak pertanyaan yang selalu didengar oleh salah seorang ibu rumah tangga yang berada di Kampung Jati, Desa Cikarang Kota, Kabupaten Bekasi saat anak pertamanya Alif Saputra menanyakan kabar tentang sang suami yang telah tiada.

Siti Zubaidah (25) tak bisa berkata lebih untuk menjelaskan jawaban dari pertanyaan sang anak, saat merindukan suaminya. Dia tak menyangka, selama ini orang yang menjadi tulang punggung keluarga kecilnya telah tiada dengan tidak menitipkan pesan apa pun. Hanya pada waktu itu berpamitan kerja demi menutupi kebutuhan ekonomi.

Siti Zubaidah adalah istri dari pria di Bekasi, MA, yang dibakar hidup-hidup oleh warga karena dituduh mencuri sebuah amplifier mushala di Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Selasa (1/8) lalu.

Anaknya, Alif Saputra yang masih berumur 4 tahun dengan suara yang cadel selalu menanyakan kabar suaminya di setap waktu khususnya menjelang waktu maghrib tiba. Hal itu karena almarhum, ayah dari anaknya tersebut selalu ikut salat mengajak anaknya untuk melaksanakan kewajiban 5 waktu.

“Alif belum sekolah baru umur 4 tahun entar bulan 11. Dia dekat banget dengan almarhum. Makanya dari kemarin dia nanya terus ‘abi mana sih? pas udah Maghrib kok Abi mana sih? Pas orang- orang udah salat kan kok abi gak Allah sih’,” kata Siti sambil menahan tangis.

Dia pun kaget setiap mendengar pertanyaan itu karena tak tahu lagi harus menjawab seperti apa. Dia merasa sudah habis alasannya untuk berbohong, menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.

“Saya bilang ke anak saya, ‘Kan Abi bobok’ saya kasih pengertiannya abinya lagi tidur. Sampai sekarang anak pertama saya gak tahu,” ujarnya.

Tak hanya itu, saat pemakaman berlangsung, Alif yang juga ikut menyaksikan pemakaman itu kembali bertanya akan kondisi yang sebenarnya. Alif yang masih berumur 4 tahun tersebut bertanya kenapa ayahnya bisa ditindih dengan tanah seperti itu.

“Tapi pas dimakamin kemarin anak pertama ngikut. Dia ngomong ‘Mama, Mama, kok Abi bobok ditindihin sama tanah gitu sih?’. Si Alif ngomongnya gak jelas saat itu, omongannya masih cadel,” tuturnya.

Tak kuasa tangis, saat itu Siti yang juga masih sementara dalam kondisi mengandung anak keduanya tersebut mencari alasan lain yang dapat diterima oleh anak pertamanya tersebut.

“Saya jelasin ke anak saya, iyah itu mah selimut buat Abi. Dia rindu banget. Dari malam pertama sampai sekarang nangis terus. Dia juga nggak tidur pas nungguin suami saya pulang pas hari di mana kejadian berlangsung,” jelasnya.

Kini, sang suami telah tiada, meninggalkan Siti yang harus menggantikan posisi sebagai tulang punggung keluarga. Sang suami juga meninggalkan satu orang anak masih di bawah umur dan kandungan dengan umur 6 bulan yang masih berada dalam perut Siti.

“Suami saya tulang punggung keluarga dan dia sekarang udah gak ada. Saya bingung. Anak saya masih kecil. Satu dalam perut. Saya belum bisa berbut apa-apa karena saya syok banget,” tuturnya.

Suami Siti dibakar massa arena dituduh telah mencuri amplifier di sebuah mushala di Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Padahal, belum ada yang bisa memastikan apakah suami Siti benar telah mencuri amplifier mushala. Setelah kepergiaan MA, Zubaidah belum memikirkan rencana ke depan.

“Masih bingung. Sedih, masih nggak habis pikir. Emang setiap manusia pasti meninggal, tapi kan beda caranya. Tapi ya nggak kaya gini juga caranya. Bingung mau gimana. Paling numpang hidup sama orang tua, numpang makan, mau gimana lagi, karena yang biasa nafkahin saya nggak ada. Saya cuma ngurusin anak saya. Mau kerja juga dalam keadaan hamil, mana ada yang mau terima,” katanya.

Sampai saat ini,  Zubaidah, masih syok walaupun sesekali masih menguatkan diri demi menerima para tamu yang bertakziah ke rumahnya.

Melihat kondisi memprihatinkan ini, Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa berinisatif untuk membantu keluarga korban. Pada Minggu (6/8), Tim LPM Dompet Dhuafa berkunjung ke kediaman Zubaidah.

Berjuang tabah melanjutkan hidup.

 

“Kami mewakili donatur Dompet Dhuafa hadir demi memberikan support moril dan bantuan kepada keluarga MA. Karena mereka kini dalam kondisi yang sangat memerlukan uluran simpati kita semua. Bantuan yang diberikan yaitu berupa keperluan hidup sehari-hari, pembayaran rumah kontrakan dan pembuatan kartu BPJS,” ujar Lukman, Tim LPM Dompet Dhuafa.

Dompet Dhuafa salurkan bantuan untuk Zubaidah dan keluarga.

Semoga dengan bantuan yang diberikan mampu meringankan beban hidup Zubaidah dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya dalam keadaan sehat dan kelak lahir secara sehat dan selamat.

Mari, ulurkan tangan kita untuk Zubaidah. Tunjukkan kepedualianmu melalui rekening

BCA 245.4000.551

BSM 146.006.4444

Muamalat 308.001.3157

Mega Syariah 1000.1000.54

a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

tambahkan angka 5 di akhir nominal donasi Anda atau klik tombol di bawah:

DONASI UNTUK ZUBAIDAH DAN YATIM ALIF

Share kampanye ini: