Sabtu di awal April 2017. Masih terlau pagi. Pukul 08.00 waktu itu, bencana datang dan meluluhlantakkan Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur. Indahnya matahari pagi pedesaan berganti panik dan duka. Gemuruh tanah mengalir deras dan cepat, menghantam siapa pun dan apa pun yang berada di jalurnya.

Sekarang, timbunan tanah hingga setinggi gedung 6 lantai mengubur sebagian desa. Sebanyak 28 jiwa saudara kita warga Desa Banaran dinyatakan hilang dan diperkirakan tertimbun tanah longsor. Sementara lebih dari 200 warga diungsikan untuk menghindari longsor susulan (Basarnas, 2/4/2017 Detik.com).

Merespons hal ini, Tim Disanter Management Center (DMC) Dompet Dhuafa kini bergabung terjun ke lokasi bencana. Tim akan mendukung proses evakuasi korban serta pendirian dapur umum, distribusi kebutuhan dasar, layanan kesehatan, trauma healing, dan pendampingan pengungsi.

Selalu ada hikmah dalam musibah. Saatnya kembali bergandeng tangan bantu korban bencana.

Mobil dan Motor Turut di

Foto Dompet Dhuafa Banten.

Evakuasi Korban Longsor di Ponorogo

Mobil dan Motor Turut di

Cara Berdonasi

Ringankan duka warga Desa Banaran Ponorogo dengan Sedekah Kemanusiaan melalui:

Rekening Indonesia Siap Siaga

BCA 245.4000.551
BSM 146.006.4444
a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

Berapa pun donasi Anda, sangat berarti bagi mereka.

Untuk kemudahan identifikasi donasi, mohon tambahkan angka 1 di belakang jumlah donasi Sahabat. Contoh, Rp 100.001 untuk donasi 100 ribu rupiah atau lakukan konfirmasi donasi ke WhastApp 0859 6655 3585

Atau dengan cara:

  1. Klik tombol DONASI SEKARANG
  2. Masukkan nominal donasi Anda
  3. Masukkan informasi data donatur
  4. Pilih metode pembayaran via transfer
  5. Kami akan mengirimkan detail donasi melalui email dan SMS

 

DONASI SEKARANG

Layanan Donasi

Call Center: (0254) 2222 47
SMS/ WhatsApp: 0859 6655 3585
Email: [email protected]

#LovePonorogo #IndonesiaSiapSiaga #MembentangKebaikan #DompetDhuafa

Sahabat, beberapa minggu terakhir, hujan turun merata hampir di seluruh Nusantara. Bagi sebagian kita, curah hujan menjadi syukur, namun bagi sebagian saudara-saudara kita, hujan justru membawa ujian ujian.

Banjir telah membuat saudara-saudara kita di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang berjuang untuk bertahan. Aktivitas ekonomi mereka sempat lumpuh, area pertanian tergenang air dan terancam gagal panen, belum lagi fasilitas umum serta rumah yang rusak dan perlu perbaikan.

Banjir yang menerjang wilayah Kabupaten Lebak, Banten, beberapa minggu lalu.
Kondisi banjir di Banten. Rumah warga rusak dan butuh perbaikan.

Di selatan Banten, ribuan orang mengungsi dan bergantung pasokan makanan dari dapur-dapur umum yang disiapkan oleh berbagai elemen, termasuk tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa. Curah hujan yang terus meningkat, membuat saudara-saudara kita di Serang, Cilegon, Tangerang, bahkan daerah-daerah lain di Tanah Air menjadi was-was.

Di mana saudara kita didera bencana, di sanalah kita tetap berada bersama mereka.

Mari dukung tim respons kebencanaan Dompet Dhuafa dengan menyalurkan donasi kemanusiaan melalui rekening #BantenSiapSiaga

BCA 245.4000.551
Mandiri Syariah 146.006.4444
a.n Yayasan Dompet Dhuafa Republika

 

Atau klik tombol donasi di bawah:

DONASI UNTUK BANTEN SIAP SIAGA, KLIK DI SINI

Masukkan jumlah donasi yang ingin Sahabat berikan, nama, email, dan nomor ponsel/WhatsApp untuk menerima status donasi Sahabat. Jangan khawatir, email dan SMS yang kami kirim bukan spam.

Evakuasi korban banjir.
Pendirian Dapur Umum.
Penyaluran bantuan makanan untuk korban banjir.
Perbaikan fasilitas umum yang rusak.
Jembatan darurat pascabanjir.

DONASI UNTUK BANTEN SIAP SIAGA, KLIK DI SINI

Keheningan subuh berubah riuh setelah hujan lebat mengguyur sejumlah kecamatan di Kabupaten Lebak dan Pandeglang, Rabu (8/2/2017) malam yang mengakibatkan Sungai Cisimeut di Kecamatan Leuwidamar meluap dan merendam ratusan rumah penduduk.

Ketinggian air terus bertambah hingga sekitar pukul 05.00 WIB musibah banjir itu menyapa warga. Panik dan pasrah, begitulah yang bisa dilakukan penduduk di selatan Banten itu tadi pagi. Air yang terus merendam membuat warga tak sempat menyelematkan barang-barang dan perabotan rumah tangga.

Selain Kecamatan Leuwidamar, banjir di Kabupaten Lebak juga merendam rumah, area persawahan, sekolah, dan membuat sejumlah akses jembatan terputus di Cibeber, Bayah, Cijaku, Malingping, Cirinten, Wanasalam, Banjarsari, dan Lebak Gedong.

Kondisi banjir di Banten Selatan
Fasilitas pendidikan pun terdampak banjir
Dihantam banjir, rumah Umar, warga Kampung Kacer, Desa Sukamanah, Kecamatan Panimbang, Pandeglang, rata dengan tanah. (Foto: FesbukBantenNews)
Kondisi banjir di Banten Selatan

 

“Dua jembatan di Ciparasi dan Sinargaluh putus, dan satu jembatan beton di Cibeber putus karena longsor,” ungkap warga.

Dampak banjir pun terlihat di Kabupaten Pandeglang yang merendam 5 kecamatan, di antaranya Munjul, Angsana, Sobang, Panimbang, dan Cikeusik.

Pantauan relawan Dompet Dhuafa Banten di lapangan, sedikitnya 150 rumah terendam dengan ketinggian hingga 1,5 meter di Munjul, Pandeglang, dan ratusan warga terpaksa mengungsi di kedua kabupaten terdampak banjir.

Data yang dihimpun relawan Dompet Dhuafa, setidaknya ada 2.300 rumah di Pandeglang yang terendam dengan ketinggian air yang bervariasi.

Saat ini, saudara-saudara kita di Banten Selatan menunggu uluran tangan. Mereka membutuhkan bantuan selimut, makanan, dan obat-obatan.

Salurkan bantuan Anda melalui dompet #LoveBantenSelatan

Bank Syariah Mandiri 146.004.4444
a.n. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

Kode Bank 451 (bila transfer dari bank berbeda)

(Tambahkan angka 3 di ujung jumlah donasi Anda atau beri keterangan transfer “Love Banten Selatan”)

Atau Klik Tombol Donasi di bawah ini:

DONASI SEKARANG UNTUK BANTEN SELATAN

UPDATE RESPONS DOMPET DHUAFA

Jumat (10 Februari 2017), Dompet Dhuafa mendirikan posko pengungsian, mengindentifikasi dampak banjir, dan menyalurkan bantuan makanan, pakaian, serta obat-obatan

Sabtu (11 Februari 2017), Disaster Management Center Dompet Dhuafa mendirikan Dapur Umum untuk membantu pemenuhan kebutuhan pangan korban banjir

Senin (13 Februari 2017), Dompet Dhuafa menerjunkan bantuan sembako di Dapur Umum DMC Dompet Dhuafa

Foto Dompet Dhuafa Banten.
Dompet Dhuafa salurkan bantuan pakaian, makanan, dan obat-obatan
Relawan Dompet Dhuafa bagikan makanan kepada korban banjir
Foto Budise Kiki.
Penyaluran bantuan makanan dan obat-obatan kepada warga korban banjir

 

 

 

Dapur Umum Dompet Dhuafa di wilayah banjir
Foto Dompet Dhuafa Banten.
Relawan membagikan makanan untuk korban banjir

 

DONASI SEKARANG UNTUK BANTEN SELATAN

Banjir bandang melanda Kota Bima, Nusa Tenggara Barat yang menghanyutkan belasan rumah, dan sejumlah mobil, Rabu, 21 Desember 2016. Banjir diakibatkan oleh meluapnya Sungai Padolo dan air bah kiriman dari Wawo.

Kondisi semakin parah karena hujan mengguyur Bima. Akibatnya, lima kecamatan terendam. Kepala Kepolisian Resor Kota Bima, Ajun Komisaris Besar Ahmad Nurman Ismail mengatakan banjir mulai menerjang Kota Bima sejak 13.30 WITA.

Banjir bandang ini disebut sebagai banjir terparah di Bima dalam beberapa tahun terakhir.

“Banjir bandang kali ini terparah. Semua kecamatan terendam banjir. Selain rumah, juga merusak fasilitas pemerintah, seperti perkantoran, sekolah, jalan dan jembatan, bahkan merusak lahan pertanian, termasuk hewan ternak,” tutur Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima, H Syarafuddin, Kamis (22/12/2016).

Kondisi Bima Saat Ini

Foto Dompet Dhuafa.

Foto Dompet Dhuafa.

Foto Dompet Dhuafa.

Foto Dompet Dhuafa.

Saat ini, keluarga kita di Bima membutuhkan bantuan  keperluan evakuasi seperti perahu, tenda darurat, selimut, air bersih, makanan, obat-obatan, dan pakaian.

Sahabat, mari dukung tim respons Dompet Dhuafa di Bima, donasi melalui dompet #LoveBima

CARA BERDONASI

  • Klik tombol DONASI SEKARANG
  • Pilih jumlah donasi yang ingin Sahabat berikan (Rp 20.000, Rp 50.000, Rp 100.000) atau masukkan jumlah lain sesuai kemampuan Sahabat
  • Masukkan data berupa Nama Donatur, Nomor HP atau WhatsApp, dan Email yang digunakan untuk konfirmasi status dan laporan donasi
  • Klik tombol Donasi Sekarang
  • Sahabat akan menerima pemberitahuan yang memuat info detail donasi seperti ID Donasi, Jumlah Donasi, Rekening Donasi, dll
  • Lakukan transfer ke rekening #LoveBIMA yang diinformasikan juga lewat Email dan SMS
  • Silakan konfirmasi lewat link yang disertakan di Email atau SMS

Donasi Sahabat akan sangat membantu mereka, keluarga kita korban banjir bandang di Bima.

RESPONS DOMPET DHUAFA UNTUK KORBAN BANJIR BIMA

Foto Dompet Dhuafa.

Foto Dompet Dhuafa.

Foto Dompet Dhuafa.

Foto Dompet Dhuafa.

BERITA RESPONS BANJIR BIMA JUGA DAPAT DIBACA DI SINI

Aleppo Berpesan “Selamat Tinggal, Dunia…”

Mengapa mereka harus bersimbah darah, sementara kita masih di dunia yang sama? Dunia yang sejatinya mengecam kekerasan dan kesewenangan!

Sumber foto: http://en.axar.az/

Kemanusiaan kini ternodai!

Mengapa suara mereka begitu dekat muncul di telepon genggam kita, namun mustahil untuk menggenggam tangannya? Mengapa Dunia Terdiam? Di Aleppo, dalam asa terakhir, mereka pun berpesan “Selamat tinggal dunia….”

Sisakan sedikit ruang dalam kepedulian kita, ada wanita dan anak anak tak berdosa yang meregang nyawa akibat ego dan keserakahan segelintir orang.

Serangan demi serangan tak kuasa mereka tampik menghampiri bak air hujan.

Tak pernah ada yang menyangka Syiria akan jadi seperti sekarang ini. Negara ini dulunya adalah penampung derita ratusan ribu pengungsi Palestina. Puluhan tahun sudah korban konflik perang Palestina-Israel tinggal di beberapa kota di Syiria berbaur dengan warga setempat. Siapa sangka hari ini berbalik situasinya, jutaan warga Syiria mengungsi ke negara lain mencari aman dan kehidupan yang layak.

Hari ini mereka lebih membutuhkan hati kita sebagai sesama manusia dibanding nalar terhadap peta konfliknya. Atas nama kemanusiaan, mereka membutuhkan bantuan kita.

Dalam aman yang kita nikmati saat ini, teruslah berdoa untuk warga Aleppo, Syiria dan sampaikan keberpihakan kita melalui Dompet Dunia Islam. Berikan sedekah terbaik kita untuk Aleppo sekarang!

Save Aleppo! Save Humanity!

Sumber foto: http://en.axar.az/
Sumber foto: http://en.axar.az/
Sumber foto: http://en.axar.az/

PERKEMBANGAN BERITA ALEPPO DAPAT DIBACA DI SINI

 

Rabu (7/12) subuh, pelepasan energi bumi menyebabkan gempa bumi berkekuatan 6,4 SR menghentakkan warga Aceh, khususnya di Kabupaten Pidie Jaya (Pijay).

Ratusan bangunan roboh, sementara gempa susulan masih terus terjadi hingga kini.

Informasi yang dihimpun di tim LKC Dompet Dhuafa Aceh di lapangan per 7 Desember 2016 pukul 13.30 WIB, dilaporkan korban meninggal dunia akibat bencana ini mencapai 49 orang dan 190 orang luka-luka, serta puluhan bangungan rusak berat.

Bantuan medis pun menjadi sangat penting di samping posko pengungsian sementara dan kebutuhan dasar lainnnya seperti dapur umum, pakaian, serta perawatan anak-anak, ibu hamil dan lansia.

Dinyatakan dari gempa ini tak berpotensi tsunami, namun kekhawatiran warga Aceh tak bisa ditutup-tutupi. Kenangan tsunami satu dekade lebih lalu masih membayangi.

Duka tak semestinya dipikul sendiri oleh saudara kita di Aceh, mari perluas bentangan kebaikan kita karena mereka keluarga kita.

Dukung tim respons Dompet Dhuafa di Aceh, donasi melalui dompet #LoveAceh.

Gempa Aceh, Dompet Dhuafa

Gempa Aceh, Dompet Dhuafa

Gempa Aceh, Dompet Dhuafa

Gempa Aceh, Dompet Dhuafa

Gempa Aceh, Dompet Dhuafa

Gempa Aceh, Dompet Dhuafa

Gempa Aceh, Dompet Dhuafa

 

UPDATE RESPONS DOMPET DHUAFA

BERITA RESPONS GEMPA ACEH DAPAT DIBACA DI SINI

Subhan namanya. Lima tahun usianya kini. Namun malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, di usia sedini itu, Subhan harus rela keceriaan masa kecil lenyap dari kesehariannya.

Sejak usia setahun, Subhan menderita tumor di wajahnya. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak begitu menggembirakan, membuat Subhan semakin jauh dari harapan untuk sembuh dan hidup layaknya anak-anak lain. Kini, tumor yang bersarang di wajahnya kian mengganas. Subhan yang bocah itu hanya mampu melihat dengan sebelah matanya.

Di sebuah kampung kecil di Provinsi Banten, tepatnya di Kampung Cinangka, Desa Majau, Kecamatan Saketi, Pandeglang, Subhan dan keluarganya hidup merenda asa yang tiada pasti. Ayahnya, Muhana (57) kini pun di ambang putus asa.

“Saya tak sanggup membiayai pengobatan Subhan, saya hanya bekerja sebagai buruh tani,” ujarnya lirih.
Sementara sang ibu, Arsanah (46) hanya mampu pasrah dan berharap ada uluran tangan dari dermawan, berharap penyakit si buah hati bisa diobati.

bantu-subhan
Subhan kecil bersama sang ibunda. Mari bantu Subhan mendapatkan kembali hak ceria masa kecilnya.

“Sudah lama saya pengen anak saya sembuh. Tapi tidak punya dana. Suami kerjanya juga tidak tetap,” kata Marsanah, nyaris terisak.

Yang lebih membuat ngilu di hati, selain Subhan, orangtua serta pamannya pun diuji dengan penyakit serupa. Namun permasalahan mereka sama, tidak punya dana untuk berobat.

Tim Dompet Dhuafa Banten dan Relawan Fesbuk Bantennews mengunjungi kediaman keluarga Subhan dan menyalurkan bantuan tahap pertama.

“Beberapa tahun yang lalu ada memang dari yayasan mau membantu untuk mengobati anak kami, akan tetapi, sampai saat ini tidak ada kabarnya lagi. Terus terang, saya dan keluarga ingin sembuh, khususnya anak saya, namun apalah daya, saya juga tidak punya biaya untuk membawa Subhan ke rumah sakit,” tuturnya bercerita.

Mari, Dompet Dhuafa Banten bersama Relawan Facebook Banten News mengajak kita semua mengulurkan tangan untuk Subhan. Kita bantu Subhan kembali memperoleh haknya untuk ceria layaknya anak-anak sebayanya. Setidaknya, saat ini Subhan membutuhkan dana Rp50 juta untuk berobat. Berapa pun donasi Anda tentulah sangat bearti baginya. Subhan adalah keluarga kita. Mari, ringankan deritanya.

Subhan bersama Relawan Fesbuk Bantennews, Wiwit.
Tim Dompet Dhuafa Banten dan Relawan Fesbuk Bantennews mengunjungi kediaman keluarga Subhan dan menyalurkan bantuan tahap pertama.

UPDATE:

Alhamdulillah, Senin (19/12/16), Subhan mulai menjalani pengobatan di poli mata salah satu rumah sakit di Jakarta. Tim dokter menyarankan agar dilakukan MRI (Magnetic Resonance Imaging), guna mengetahui diagnosa penyakit Subhan.

Subhan bersama sang Ibunda saat di salah satu RS di Jakarta. Subhan mulai menjalani proses mengobatan. Mari terus bantu.

Sebelum menjalani proses MRI, Subhan akan melakukan pengecekan darah, kemudian berkonsultasi dengan dokter spesialis anak dan dokter spesialis anastesi sampai kondisinya benar-benar siap untuk dilakukan tindakan MRI.

Sahabat, terima kasih untuk gandeng tangan kita mengantar Subhan menjemput keceriaan masa kecilnya. Mari terus dukung Subhan untuk sembuh.

Rumahku surgaku, begitu kata pepatah. Namun, kata-kata indah itu tidak berlaku bagi keluarga Nenek Amsiyah (50 tahun), warga Kampung Kadungerong, Desa Kadubeureum, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten.

Di sebuah gubuk tak layak huni, Nenek Amsiyah tinggal bersama sang kakak, Kakek Soleman (60 tahun). Di usia sesenja itu, Kakek Soleman belum pernah menikah, sedangkan Nenek Amsiah adalah janda yang sudah lama hidup menumpang kepada kakaknya.

tempat-tidur-nenek-amsiyah
Kondisi tempat tidur Nenek Amsiyah yang hanya beralas tikar dan dinding bilik yang berlubang.

Tak sekadar itu, gubuk reot mereka pun berdiri bukan di tanah sendiri. Masih beruntung, Kakek Soleman dan Nenek Amsiyah bertemu orang baik dan mengizinkan mereka berdua tinggal di kebunnya. Di gubuk itulah kakak-beradik menghabiskan hari tua. Memenuhi kebutuhan sekadar makan sehari-hari, kedua orang tua itu mengais rezeki jadi buruh serabutan, membersihkan kebun orang lain, dan kuli panggul kayu, saat usia mereka yang sudah renta.

rumah-amsiyah
Gubuk tempat tinggal Pak Soleman dan Nenek Amsiyah tampak dari luar.

Hati semakin perih begitu mengetahui kenyataan bahwa Kakak Kakek Soleman dan Nenek Amsiyah juga buta aksara lantaran tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah. Mereka tidak bisa membaca dan menulis. Nenek Amsiyah pun demikian, bahkan mereka tidak tahu nilai nominal uang sehingga kalau berbelanja kembalian tergantung kepada kejujuran pedagangnya. Untuk masalah makanan dan dapur, jika benar-benar tidak ada mereka sering dibantu warga setempat. Tapi, di antara pilu hati kita yang menyakisikan, semangat Kakek Soleman adalah pelipur lara. Laki-laki tua itu kini sedang bersemangat belajar membaca Alquran kepada ketua RT setempat.

whatsapp-image-2016-11-25-at-5-39-19-pm
Kondisi dapur.
whatsapp-image-2016-11-25-at-5-39-12-pm
Kondisi di dalam gubuk.
whatsapp-image-2016-11-25-at-5-39-20-pm
Kondisi di dalam gubuk.

Sengaja kami tampilkan beberapa foto gubuk mereka. Tampak nyata, kondisi gubuk yang mereka tempati jauh dari kata layak apalagi dikategorikan rumah sehat. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita agar bisa menikmati rumah yang layak huni di sisa hidup mereka. Mari wujudkan rumah layak keluarga kita ini, agar lelap tidur mereka, bahagia di hari tuanya.

DONASI SEKARANG

13 November 2016, api membakar rumah-rumah. Sepasukan loreng terlatih meratakan desa. Setidaknya 69 jenazah bergelimpangan, laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar, kembali dirundung duka.

“Ini bukan bencana alam. Ini pembersihan etnis secara luas dan sistematis,” ujar Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten, Abdurraman Usman, Kamis (24/11/2016).

Di tengah tragedi yang menimpa, Dompet Dhuafa (DD) kembali membuka gerakan kemanusiaan untuk membantu etnis Rohingya. Dompet Dhuafa akan fokus membantu anak-anak korban kekerasan. Bantuan tersebut akan difokuskan di bidang pendidikan. Melalui Dompet Dunia Islam, Dompet Dhuafa juga akan menyalurkan bantuan senilai Rp 1 miliar kepada para korban konflik.

A Rohingya Muslim woman and her son cry after being caught by Border Guard Bangladesh (BGB) while illegally crossing at a border check point in Cox’s Bazar , Bangladesh, November 21, 2016. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain TPX IMAGES OF THE DAY
Mereka keluarga kita. Ayo bantu. (fortune.com)

“Terlepas dari isu agama, secara kemanusiaan, saudara kita dari etnis Rohingya harus dibantu.Untuk tahap awal, akan dikirim bantuan logistik makanan untuk pengungsi, terutama perempuan dan anak-anak akan segera disalurkan,” tutur Usman.

Usman menyampaikan, saat ini, Dompet Dhuafa juga sedang melakukan kampanye publik bertajuk Humanesia untuk penyadaran kepada masyarakat Indonesia dan dunia, bahwasanya isu kemanusiaan Rohingya merupakan isu bersama.

“Kita terus melakukan advokasi kemanusiaan dan mempersiapkan program respons di bawah koordinasi UN. Kita akan desak pemerintah Myanmar agar membuka akses bagi aktivis kemanusiaan termasuk jurnalis agar bisa memberikan bantuan dan menyampaikan informasi terkini di sana,” sambungnya.

rohingya
Relawan Dompet Dhuafa di program School For Refugees untuk pengungsian Rohingya, Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam. (Dompet Dhuafa)
posko-dompet-dhuafa-di-pengungsian-rohingya-aceh-2
Relawan Dompet Dhuafa di program School For Refugees untuk pengungsian Rohingya, Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam. (Dompet Dhuafa)

Sejauh ini, Dompet Dhuafa telah memiliki mitra jaringan kerja di Myanmar yang membantu menyalurkan amanah masyarakat Indonesia melalui Dompet Dhuafa. Mereka telah membantu mengimplementasikan bantuan di wilayah Rakhine, yakni wilayah tempat tinggal etnis Rohingya.

“Dalam waktu dekat, relawan-relawan Dompet Dhuafa juga akan diberangkatkan ke Myanmar untuk memperkuat tim relawan lokal yang sudah ada di sana,” kata Usman kemudian.

Usman mengajak segenap masyarakat dunia, khususnya masyarakat Banten untuk ikut membantu dalam gerakan ini. “Sebagai sesama manusia, lebih-lebih sesama Muslim, sepatutnya kita turut membantu baik berupa meteri maupun doa. Rohingya adalah keluarga kita,” tegas Usman.

FILE - In this June 13, 2012 file photo, a Rohingya Muslim man who fled Myanmar to Bangladesh to escape religious violence, cries as he pleads from a boat after he and others were intercepted by Bangladeshi border authorities in Taknaf, Bangladesh. She is known as the voice of Myanmar's downtrodden but there is one oppressed group that Aung San Suu Kyi does not want to discuss. For weeks, Suu Kyi has dodged questions on the plight of a Muslim minority known as the Rohingya, prompting rare criticism of the woman whose struggle for democracy and human rights in Myanmar have earned her a Nobel Peace Prize, and adoration worldwide. (AP Photo/Anurup Titu, File)
Mereka keluarga kita. Ayo bantu. (arqom.net)
Rohingye people, a Muslim population, living in Rakhine State on the northwest coast of Burma have been restricted to their villages and placed in Internally Displaced Peoples (IDP) camps by the Burmese government. They have been the victims of persecution and communal violence by numbers of the Buddhist majority in Rakhine. International NGO's such as MSF have been expelled by the government, leading to a soaring crisis in health care. Brick kilns operated by Rohingya IDP's. Workers are IDP's. Adults are paid 2,000 kyat per day for about 10m hours of work. Children are paid 1,000 kyat per day. Children in photos are from age 6 to 8 and the oldest is 14. Thek Kay Pyin, 7, an IDP. His father is So Zokorice (small man in white tank top). He was falsely accused of murder and spent 1and 1/2 years in Sittwe Jail, beaten continuously for 8 months before being released without charges against him. Funeral of Ziada Begum, 30, who died of stomach diseasee. Left behind 5 children with no husband. Sham Shi Dar Begum, 18. TB and AIDS. Father died from AIDS. MOther Noor Johan, 50. Has seven daughters, all living in two small rooms in camp. Photograph by James Nachtwey.
Mereka keluarga kita. Ayo bantu. (time.com)
2016-10-11-1476222757-3293869-rohingya4
Mereka keluarga kita. Ayo bantu. (mintpressnews.com)
myanmar-violence-690x389
Mereka keluarga kita. Ayo bantu. (huffingtonpost.com)

BERITA RESPONS UNTUK ROHINGYA DAPAT DIBACA DI SINI